Jumat, 16 Juni 2017

CALCIUM (Ca) : FUNGSI , GEJALA KEKURANGAN & SOLUSI




Salam Tani.............. Pada kesempatan ini kita akan membahas secara khusus bagaimana mencegah, mengatasi dan solusi kekurangan Kalcium (Ca) Kalsium ( Ca ) termasuk kategori unsur makro bagi tanaman yang sangat di butuhkan oleh tanaman untuk keperluan pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Ketersedian unsur Kalsium ( Ca ) di dalam tanah sangat berkaitan dengan tingkat keasaman tanah (pH Tanah), jika tanah mempunyai pH yang rendah ( asam ) maka ketersedian Ca akan rendah dan susah untuk di serap olah tanaman. Fungsi Calsium di dalam pertumbuhan tanaman antara lain : 1. Mendorong pembentukan dan pertumbuhan akar lebih dini. 2. Mempengaruhi pengangkutan air dan hara-hara lain. 3. Diperlukan untuk pembentukan sel-sel baru bagi tananam, pemanjangan sel-sel, sintesis protein dan pembelahan sel. 4. Bekerja sama dengan unsur Kalium ( K ) dalam rangka menjaga tata fungsi air dalam sel tanaman 5. Mengatur translokasi karbohidrat, kemasaman dan permeabilitas sel. 6. Mendorong produksi tanaman padi-padian dan biji tanaman. 7. Membantu menetralkan asam-asam organik yang bersifat meracuni. 8. Penting untuk pembentukan dan berfungsinya bakteri-bakteri bintil akar (Rhizobia) pada tanaman legum.
Gejala Kekurangan Kalsium ( Ca ) : 1.Tunas dan akar tidak tumbuh karena pembelahan sel terganggu. 2. Akar menjadi pendek dan rusak 3. Kuncup tanaman muda yang baru muncuk tidak akan tumbuh dan mati 4. Tepi daun mengalami klorosis atau perubahan warna dan menjalar ke bagian tulang daun
serta tengah daun. 5. Pembentukan dinding sel buah tidak sempurna pada tanaman 6. Pembentukkan buah yang dihasilkan pecah dan memiliki kualitas yang sangat jelek 7. Pada buah cabe terlihat ujung buah melengkung ke atas tidak normal danujung buah
berwarna kuning. 8. Adanya bintik atau bercak hitam pada daun tanaman. 9 Cabe, kubis, kembang kol, paprika, tomat dan seledri yang paling rentan kekurangan
kalsium. Kelebihan kalsium Kelebihan kalsium pada tanaman adalah : 1. Mempengaruhi pH tanah menjadi naik 2. Penyerapan unsur Mg terganggu 3. Tanaman mengalami dehidrasi 4. serapan unsur lain berkurang seperti K dan Mg Solusi : 1. Pada saat melakukan pengolahan tanah kita wajib mengecek kemasaman tanah ( dapat di
ukur dengan alat yang namanya pH Meter ) atau kertas lakmus. Apabila di ukur tanah
dalam kondisi pH asam ( 2 - 5 ) kita harus meningkatkan pH tanah ke dalam kondisi netral
( kisaran pH 6.8 - 7 ). Untuk meningkatkan pH tanah, kita gunakan Dolomite Halus, dosis
Dolomite Halus disesuaikan dengan pH tanah. 2. Sedangkan untuk lahan gambut mempunyai cara tersendiri yaitu pH di tingkatkan dengan
pengolahan ( dibalik ) setelah itu tanah di lakukan pengapuran dengan memberikan
Dolomite Halus, selanjutnya di beri pupuk organik ( kotoran ayam ) di balik lagi dan di
tutup dengan pemberian Dolomit Halus lagi, diakhiri pada saat tanam lubang tanam di
tutup dengan menggunakan pupuk organik. 3. Hindari terjadinya kelebihan dan kekurangan air selama proses 4. Seminggu sebelum penanaman berikan Kapur Pertanian (Calcium Carbonate/ CaCO3) ke
dalam lubang tanam. 5. Sebulan sesudah penanaman taburkan Kapur Pertanian (Calcium Carbonate/ CaCO3)
sebanyak 2 - 3 sdm per tanaman (untuk tanaman palawija) 6. Seminggu sebelum pemupukan berikan 2 sdm Kapur Pertanian (Calcium Carbonate/
CaCO3) tiap batang tanaman. Tujuannya untuk memudahkan penyerapan zat hara/ pupuk yang diberikan. Yang perlu di ingat KAPUR PERTANIAN (CALCIUM CARBONATE/ CaCO3) DAN DOLOMIT BERBEDA. Semoga apa yang saya bagikan bermanfaat bagi kita semua.................... PT. PANJIWIRA SURYA MANDIRI Info dan Pemasaran : 0852 6591 8610

FUNGSI DOLOMITE DAN AKIBAT KEKURANGAN MAGNESIUM (Mg)

Sebelum melangkah ke permasalahan kekurangan Magnesium (Mg), sangat manusiawi kiranya kalau kita memahami dulu peran atau fungsi dari Magnesium (Mg) itu sendiri untuk tanaman. FUNGSI DOLOMITE
Fungsi Dolomite yang diberikan kedalam tanah adalah : 1. Menaikankan pH tanah 2. Menurunkan kelarutan Al 3. Meningkatkan kandungan unsur hara Ca dan Mg. 4. Memperbaiki tekstur, struktur dan memantapkan agregat tanah 5. Menurunkan tingkat bahaya erosi karena agregat tanah yang mantap 6. Memperbaiki sifat biologi tanah seperti aktivitas mikro organism. 7. Mematikan bakteri atau organisma yang merugikan tanaman 8. Menetralisir sisa-sisa zat yang merugikan tanaman akibat pemupukan yang berlebihan dan
penggunaan pestisida yang berlebihan 9. Mengembalikan zat hara yang dibutuhkan tanaman Gejala Umum Kekurangan Magnesium (Mg) Kekurangan Magnesium (Mg), seperti halnya kekurangan unsur hara lainnya, berpengaruh pada perolehan hasil panen. Kekurangan Magnesium (Mg) juga menyebabkan tanaman lebih rentan dan lemah terhadap serangan penyakit. Karena magnesium selalu bergerak di dalam jaringan tanaman, gejala defisiensi atau kekurangan Magnesium (Mg) muncul pertama kali pada daun yang lebih rendah atau daun lebih tua.
Gejala pertama kekurangan Magnesium (Mg) adalah 1. Daun pucat, kemudian kekuningan, klorosis antar vena (urat daun). 2. Urat-urat daun mungkin masih hijau namun bagian-bagian di sekitarnya menjadi menguning 3. Pada beberapa jenis tanaman, kekurangan Magnesium (Mg) memunculkan bintik-bintik
kemerahan atau ungu pada daun. Meskipun begitu, ekspresi gejala kekurangan Magnesium
(Mg) sangat bergantung pada intensitas cahaya yang diserap oleh daun. 4. Tanaman yang kurang tersinari cahaya matahari akan menunjukkan gejala
defisiensi/kekurangan Magnesium (Mg) yang lebih parah.
Faktor yang Mempengaruhi Ketersediaan Magnesium (Mg)
Lantas, kenapa bisa sampai terjadi defisiensi/kekurangan Magnesium (Mg)? Apa sih penyebabnya? Padahal mungkin teman-teman petani sudah melakukan penaburan cukup banyak bahan yang mengandung Magnesium (Mg) ke lahan, katakanlah dolomit. Kenapa masih kekurangan Magnesium (Mg)?
Defisiensi atau kekurangan Magnesium (Mg) sebetulnya bukan semata rendahnya kandungan Magnesium (Mg) di dalam tanah atau minimnya kita memberi suplai Magnesium (Mg) ke media tanam/tanah, namun di sana juga ada sejumlah faktor yang mempengaruhi ketersediaan Magnesium (Mg) yang bisa diserap oleh tanaman. Faktor-faktor tersebut yang paling dominan adalah: 1. pH tanah yang rendah atau kondisi tanah asam – pH tanah yang rendah diketahui memicu
kekurangan Magnesium (Mg) karena ketersediaan Magnesium (Mg) menurun, dan sebaliknya
pH tanah yang tinggi meningkatkan ketersediaan Magnesium (Mg).
Rasio Magnesium (Mg) : Mangan (Mn) di dalam tanah yang tidak ideal – Ketahuilah bahwa
saat Mangan (Mn) ketersediaannya cukup tinggi di dalam tanah, kondisi ini dapat langsung
mengurangi penyerapan Magnesium (Mg) oleh tanaman, maka terjadilah defisiensi/kekurangan
Magnesium (Mg).
2. Kompetisi kation – Tanah dengan tingkat Kalium (K) atau Kalsium (Ca) tinggi biasanya akan
memberikan sedikit Mg pada tanaman
Aplikasi kation yang tinggi: tingkat aplikasi yang tinggi kation lainnya, terutama K, dapat
mengurangi penyerapan Magnesium (Mg). Kasus ini paling umum terjadi pada rumput dan
jagung.
3 Suhu tanah yang rendah.
Solusi Saat Kekurangan Magnesium (Mg)
Defisiensi atau kekurangan Magnesium (Mg) jelas merupakan gangguan yang merugikan tanaman, dan kasus ini paling sering terjadi pada tanah dengan keasaman yang kuat, atau tanah berpasir di mana Magnesium (Mg) dapat dengan mudah tercuci oleh air. Magnesium (Mg) merupakan nutrisi makro penting yang ditemukan sekitar 0,2-0,4% bahan kering dan diperlukan untuk terciptanya pertumbuhan tanaman yang normal. Sekarang, bagaimana solusinya saat teman-teman petani menemukan gejala defisiensi/kekurangan Magnesium (Mg) pada tanaman budidayanya?
Tidak usah panik, karena tanaman dengan defisiensi/kekurangan Magnesium (Mg) dapat kita perbaiki dengan beberapa usaha, yakni: 1. Lakukan pengapuran lahan dengan baik dan benar menggunakan Dolomite PANJI yang
memiliki tingkat kehalusan 100 Mesh. Pengapuran Dolomite Halus PANJI sesuai dengan
kebutuhan pH tanah. 2. Lakukan pemeriksaan keasaman tanah atau pH tanah.
Mudah-mudahan ulasan saya ini bermanfaat bagi teman-teman petani

Ingat !
Pergunakan selalu produk dan pupuk yang telah memiliki sertifikasi Standar nasional Indonesia (SNI) Semoga sukses.


PT. PANJIWIRA SURYA MANDIRI
Info dan Pemasaran : 085265918610

Nilai pH Tanah



Nilai pH merupakan ciri kimia tanah, menjadi faktor sangat penting dalam menentukan kesuburan tanah karena ketersediaan unsur hara bagi tanaman sangat berkaitan dengan nilai pH. Semakin tinggi nilainya berarti semakin asam tanah tersebut. Populasi dan kegiatan mikroorganisme di dalam tanah juga sangat dipengaruhi oleh tingkat keasaman tanah. Pengukuran nilai pH dapat dengan berbagai cara, yaitu menggunakan kertas lakmus, pH meter dan pH tester.

Pada tanah asam (pH rendah), tanah didominasi oleh ion Al, Fe, dan Mn. Ion-ion ini akan mengikat unsur hara yang sangat dibutuhkan tanaman, terutama unsur P (fosfor), K ( kalium), S (sulfur), Mg (magnesium) dan Mo (molibdenum) sehingga tanaman tidak dapat menyerap makanan dengan baik meskipun kandungan unsur hara dalam tanahnya banyak. Pada kondisi ini, derajat keasaman tanah bernilai < 7. Selain ion-ion Al, Fe, dan Mn mengikat unsur hara, ion-ion tersebut juga meracuni tanaman. Pada tanah asam, kandungan unsur mikro seperti seng (Zn), tembaga (Cu) dan kobalt (Co) juga tinggi sehingga meracuni tanaman. pH netral bernilai 7, pada kondisi ini kebanyakan unsur hara mudah larut dalam air sehingga tanaman dapat dengan mudah menyerap unsur hara. Pada tanah basa dengan nilai derajat keasaman (pH) >7 unsur P (fosfor) akan banyak terikat oleh Ca (kalsium), sementara unsur mikro molibdenum (Mo) berada dalam jumlah banyak. Unsur Mo pada tanah basa menyebabkan tanaman keracunan.

Pengukuran pH Tanah
Pengukuran nilai pH diperlukan untuk menentukan jumlah pemberian kapur pertanian pada tanah masam atau bernilai pH rendah (di bawah 6,5). Pengukuran dapat dilakukan dengan berberapa cara, yaitu mengunakan kertas lakmus, pH tester dan pH meter. Pengukuran bisa secara diagonal maupun zigzag asal sudah mewakili. Tentukan beberapa titik sampel yang akan diukur pH-nya secara acak, setelah itu dilakukan pengukuran lalu dihitung rata-ratanya.

Kertas Lakmus
Siapkan wadah berisi air secukupnya, ambil sampel tanah yang akan diukur pH-nya. Kocok hingga bercampur rata. Ambil lapisan atas campuran tersebut dan pindahkan ke wadah yang baru. Pengambilan bisa menggunakan pipet tetes atau jarum suntik. Masukkan kertas lakmus ke dalam wadah terakhir. Kemudian cocokkan warna kertas lakmus dengan warna standar yang menunjukkan angka keasaman tanah (nilai pH). Jika kertas lakmus berwarna biru berarti tanah bersifat basa, sedangkan kertas lakmus berwarna merah berarti tanah bersifat asam.

pH Meter
Tentukan beberapa titik sampel secara acak, misal 10 atau 20 titik tergantung luas lahan yang akan diukur. Basahi permukaan tanah yang akan diukur pH-nya sampai jenuh (kapasitas lapang). Tancapkan pH meter, tunggu beberapa saat. Jarum akan bergerak perlahan sampai akhirnya berhenti (stabil). Angka pada kondisi ini merupakan nilai pH. Lakukan untuk semua titik sampel, kemudian ambil rata-ratanya.


pH Tester
Alat pH tester terdiri dari 1 botol kecil cairan kimia penguji tingkat keasaman, cawan porselen tempat pengujian, dan kartu pengamatan perbandingan skala pH dengan warna indikator. Cara menentukan nilai pH menggunaakn pH tester hampir sama dengan menggunakan kertas lakmus. Hanya saja cairan tanah yang bening dipisahkan dari tanah, kemudian diteteskan pada cawan porselen. Pada cairan tanah tersebut ditambahkan 2 tetes cairan kimia dan diaduk rata. Tunggu beberapa saat lalu amati warnanya. Cocokkan warna yang ditimbulkan dengan kartu pengamatan perbandingan skala pH.


MENETRALKAN pH TANAH
Derajat keasaman tanah pada kondisi netral mempunyai banyak keuntungan. Tanaman mampu tumbuh dengan baik sehingga produksinya dapat optimal. Tanaman mampu menyerap unsur hara dengan baik karena pada kondisi ini unsur hara mudah larut dalam air terutama sekali unsur makro P (fosfor) tidak terikat oleh unsur Al, Fe, dan Mn sehingga unsur P (fosfor) pada kondisi tersedia. Unsur P (fosfor) tersedia ini sangat dibutuhkan tanaman terutama pada fase pertumbuhan awal. Pembentukan akar menjadi sempurna. Penyerapan unsur K (kalium) juga sempurna sehingga tanaman tahan terhadap serangan hama penyakit dan tahan terhadap kekeringan.

Pada tanah dengan pH rendah (tanah asam) dapat ditingkatkan nilai pH-nya dengan cara pengapuran, sedangkan pada tanah basa (pH tinggi), penetralan pH dapat dilakukan dengan penambahan belerang (S)


PT. PANJIWIRA SURYA MANDIRI
Info dan Pemasaran : 0852659186109


Keasaman Tanah atau pH Tanah

Derajat Keasaman Tanah (pH tanah) merupakan faktor teknis yang jarang diperhatikan terutama oleh petani-petani yang masih mengembangkan pola budidaya secara tradisional. pH tanah bukan merupakan tingkat kesuburan jika dilihat dari kandungan unsur-unsur kimia dalam tanah, tetapi lebih mendefinisikan pada kondisi keterikatan antar unsur atau senyawa yang terdapat di dalam tanah. Nilai ph yang ideal akan mempengaruhi tingkat penyerapan unsur hara oleh akar tanaman.
Kunci Kesuburan Tanah

Tanah merupakan media tumbuh alami yang menyediakan makanan (unsur hara) bagi kelangsungan hidup tumbuh-tumbuhan (tanaman). 

Agar tanaman mampu berproduksi optimal berkesinambungan, kualitas tanah harus tetap dipertahankan. 
Kesalahan-kesalahan dalam pengolahan tanah dapat mengakibatkan kerusakan pada tanah, berakibat menurunkan produktifitas tanaman. Produktifitas tanah dalam menghasilkan produk pertanian sangat tergantung pada kemampuan suatu tanah dalam menyediakan unsur hara yang berimbang sesuai dengan kebutuhan tanaman.

Tingkat kesuburan tanaman pada masing-masing tempat tidak sama. 
Pada tanah asam serta miskin unsur hara, pertumbuhan tanaman akan terganggu sehingga dapat menurunkan produksi secara signifikan, apalagi jika ketersediaan air tidak terpenuhi dengan baik. 

Tanah asam merupakan jenis tanah dengan nilai pH rendah. Terhambatnya pertumbuhan tanaman akibat tanah asam pada umumnya berkaitan erat dengan berbagai reaksi tanah pada pH rendah tersebut dan dapat merupakan kombinasi dari keracunan aluminium (Al), mangan (Mn), keracunan besi (Fe), serta defisiensi (kahat) unsur P (fosfor), Ca (kalsium), Mg (magnesuim), dan kahat K (kalium). Akan tetapi, faktor yang paling dominan penyebab buruknya pertumbuhan tanaman adalah keracunan Al dan kekurangan unsur P (kahat fosfor).

Disamping terhambatnya pertumbuhan tanaman akibat keracunan Al dan kahat unsur hara tersebut, hambatan faktor fisik juga menjadi penyebab terhambatnya pertumbuhan tanaman pada tanah asam. 

Hambatan faktor fisik yang utama meliputi tekstur tanah kasar akibat erosi, kapasitas memegang air yang sangat rendah, serta adanya lapisan yang padat pada tanah sehingga sukar ditembus akar. 
Hambatan faktor fisik ini tidak kalah penting dengan hambatan faktor kimia dan bahkan lebih sulit penanganannya.

Secara umum para ahli mengemukakan bahwa masalah tanah asam dapat diatasi dengan teknologi pengapuran, karena pengapuran dapat menaikkan nilai pH dan mengurangi keracunan Al yang meracuni secara tepat dan akurat. 
Akan tetapi pengapuran saja tidaklah cukup karenakecukupan unsur hara  perlu diatasi dengan cara pemupukan, sedangkan masalah daya ikat air yang rendah perlu diatasi dengan penambahan bahan organik pada tanah.

Pada prakteknya di lapangan, pemupukan menggunakan pupuk kandungan nitrogen (N) dan fosfor (P) tinggi ternyata dapat menurunkan nilai pH sehingga tanah menjadi asam. Oleh karena itu, penggunaan pupuk kandungan N dan P tinggi harus diimbangi dengan pengapuran yang tepat.

Penggunaan bahan organik yang belum selesai melapuk juga dapat menurunkan derajat keasamannya meskipun hanya sementara. Jika pelapukan telah selesai, nilai pH akan meningkat kembali. Untuk itu, penggunaan bahan organik sebaiknya setelah melapuk karena dapat meningkatkan nilai pH. Jika menggunakan bahan organik segar, sebaiknya diberi masa inkubasi yang cukup dengan tanah, berkisar antara 4-6 minggu untuk menghindari reaksi memasamkan tanah. Di daerah pegunungan dengan suhu rendah, pemberian bahan organik segar terkadang malah diperlukan untuk meningkatkan suhu tanah.

PT. PANJIWIRA SURYA MANDIRI
Info dan Pemasaran : 085265918610

TEKNIK PENYUBURAN TANAH


Tanah yang subur adalah tanah yang apabila ditanami tumbuhan/tanaman bisa memberikan hasil yang banyak berupa produksi daun, batang, buah atau umbi. Guna mencapai tujuan tersebut maka tanah yang dijadikan lahan usaha perluada upaya agar tanah tersebut subur dalam jangka waktu yang tidak terbatas dan berkelanjutan. Ada beberapa macam cara untuk menyuburkan tanah.

Pada tanah yang banyak mengandung liat (tanah liat)
Jenis tanah ini banyak mengandung makanan tapi sayang tidak bisa dimakan oleh tumbuhan karena kekurangan kadar oksigen (O2). Untuk menanggulanginya yaitu mengupayakan agar tersedia O2. Caranya adalah dengan memberikan : kompos, bokashi pupuk kandang arang, atau bahan organik lainnya sehingga tanah menjadi gembur.

Pada tanah yang berpasir atau tanah yang banyak mengandung pasir
Jenis tanah ini adalah sulit mengikat air, cepat kering dan merana. Adapun cara mengatasi tanah seperti ini adalah dengan menambahkan bahan organic seperti : kompos, bokashi pupuk kandang, pupuk organik daun hijau yang mudah busuk ditambah dengan kotoran hewan, tanah dan air dengan perbandingan 1: 1: 1: 1, simpan didalam drum dan biarkan selama 3 minggu.

Pada tanah yang banyak mengandung kapur
Jenis tanah ini memiliki keasaman yang tinggi, mudah longsor, makanan mikronya kurang tersedia (contoh : zat besi, seng, tembaga). Untuk mengatasi jenis tanah seperti ini adalah dengan memberikan pupuk kompos, dan dedaunanyang hijau apalagi bila dedaunannya jenis tanaman yang berbunga kupu-kupu seperti kacang-kacangan, johar, turi, dll. Dan untuk menurunkan tingkat keasaman dilakukan dengan cara memberikan pupuk yang mengandung belerang.

Tanah yang bersifat asam
Tanda-tanda tanah yang bersifat asam bila di sawah warna air kuning berkarat, bila di darat suka ditumbuhi alang-alang, haredong (sunda)/ sedudu, bila ditanami jagung buah jagungnya menguning dan bila ditanami kacang tanah tidak ada buah yang berenas. Apabila menemukan tanah seperti ini keasamannya (pH) berkisar antara 3 – 5. Dengan demikian pHnya harus disesuaikan dahulu sesuai dengan keinginan tanaman. Untuk mengatasi masalah tanah seperti ini ada banyak cara diantarnya :
a. Tanah dijemur.
    Tanah dicangkul, dibajak. Tanah yang berupa bongkahan dibiarkan terjemur oleh sinar 
    matahari selama 2 minggu.
b. Diberi arang sekam.
    Tanah ditaburi arang sekam selanjutnya dicangkul hingga arang tersebut bercampur 
    dengan tanah.
c. Memperbaiki tata udara dalam tanah.
   Tanah diolah kemudian dibuat parit-parit untuk menghindari genangan air dan pada tanah 
    gambut dibuat memanjang dengan jarak 25 m agar terjadi pencucian dan yang asam 
    mengalir.
d. Menambahkan pupuk organik.
    Dengan menambah pupuk organik yang berasal dari kotoran hewan yang banyak, maka 
    secara bertahap pH tanah akan berangsur-angsur naik atau dengan kata lain keasaman 
    berkurang secara bertahap.

e. Pengapuran .
    Untuk menurunkan tingkat keasaman atau menaikkan pH dapat ditaburkan Kapur 
    Pertanian (Calcium Carbonate/CaCO3) di atas tanah yang sudah dicangkul kemudian 
    dicangkul kemudian diaduk dengan tanah, apabila sudah tercampur kapur pertanian 
    dengan tanah siram dengan air dapat pula denga air hujan, biarkan 10 sampai 15 hari, 
    baru ditanam. 
    Untuk penambahan jumlah kapur dapat dilakukan dengan cara perhitungan berikut :
    Bila diketahui pH tanah kita 4,5. 
    Tanah  yang pH yang kita inginkan 6, maka
                       (6 – 4.5) x 2000 kg/ha Dolomite Halus = 3000 kg/ha
    Kapur Dolomite Halus pada selisih pH 1.5 maka diperoleh pemberian kapur pertanian 
    3ton/Ha Dolomite Halus
 
1.Tanah Gambut
Tanah ini kaya akan zat organik namun belum bisa dijadikan makanan oleh tumbuhan
karena belum terurai dan pHnya rendah atau asam. Sirkulasi udara yang kurang baik
sehingga bakteri tidak bisa bekerja secara maksimal. Pada tanah yang seperti ini hanya
beberapa jenis tanaman saja yang dapat hidup seperti karet. Cara mengatasi jenis tanah
yang seperti ini :

a. Memberikan kompos dari pupuk kandang, arang atau bokashi pupuk kandang arang.
b. Membuat tali parit atau parit sebanyak mungkin.
c. Memberikan kultur campuran mikro organisme yang menguntungkan
d. Memberikan bakteri yang berasal dari limbah yang mengandung banyak protein 
    seperti : limbah tahu, darah, atau ikan busuk.


2. Tanah podsolik merah kuning.
Tanah ini banyak terdapat di Sumatera dan Kalimantan. Cara mengatasi jenis tanah seperti ini dengan cara :
a. Memberikan bahan organic berupa kompos yang banyak.
b. Menutup tanah atau memberi mulsa pada setiap tanaman sehingga lapisan atas tanah 
    akan terlindungi dari erosi ketika hujan.
c. Memberikan bakteri yang menguntungkan

KESIMPULAN DARI TEKNIK PENYUBURAN TANAH INI ADALAH :
1. Memberikan bahan organic berupa kompos atau bokashi hal mutlak perlu dilakukan 
    untuk menyuburkan tanaman.
2. Menjaga ekosistem kehidupan didalam tanah membuat tumbuhan tumbuh secara 
    optimum.
3. Mengatur tata udara dan air untuk membantuk menyuburkan tanah.
4. Sasaran perbaikan ditujukan kepada fisik, kimia dan biologi tanah.


PT. PANJIWIRA SURYA MANDIRI
Info dan Pemasaran : 085265918610


Faktor Yang Mempengaruhi pH Tanah

Faktor yang mempengaruhi pH tanah
Keasaman tanah atau pH tanah dapat di pengaruhi oleh beberapa faktor yaiitu bahan induk tanah, pengendapan, vegetasi alami, pertumbuhan tanaman, kedalaman tanah dan pupuk nitrogen

• Dekomposisi bahan organik
Bahan organik tanah secara terus menerus terdekomposisi oleh mikroorganisme kedalam bentuk asam asam organik, karbondioksida (CO2) dan air, senyawa pembentuk asam karbonat. Selanjutnya, asam karbonat bereaksi dengan Ca dan Mg karbonat di dalam tanah untuk membentuk bikarbonat yang lebih larut, yang bisa tercuci keluar, yang akhirnya meninggalkan tanah lebih masam.

• Bahan induk
Tanah berkembang dari bahan induk yang berupa batuan dan bahan organik. Selanjutnya batuan di kelompokkan menjadi batuan beku, sedimen dan metamorfose. Batuan basa umumnya mempunyai pH tinggi dibandingkan dengan tanah yang berkembang dari batuan masam
• Pengendapan
Jika air berasal dari air hujan melewati tanah, kation kation basa seperti Ca dan Mg akan tercuci. Kation kation basa yang hilang tersebut kedudukannya di tapak jerapan tanah akan di ganti oleh kation kation masam seperti Al, H, dan Mn. Oleh karena itu, tanah yang terbentuk pada lahan dengan curah hujan tinggi biasanya lebih masam dibandingkan pada tanah tanah pada lahan kering atau acid.
• Vegetasi alami
Tanah tanah yang berada di bawah kondisi vegetasi hutan akan cenderung lebih masam di bandingkan dengan yang berkembang di bawah padang rumput. Hutan tanaman dengan daun kecil (konifer) dapat menyebabkan lebih masam dibandingkan dengan hutan tanaman berdaun lebar.
• Pertumbuhan tanaman
 Tanah sering menjadi masam jika di tanami atau untuk aktifitas pertanian, sebab basa basa akan hilang (ikut terpanen).
• Kedalaman tanah
Pada lahan dengan curah hujan tinggi, umumnya kemasaman meningkat sesuai dengan kedalaman lapisan tanah, sehingga kehilangan topsoil oleh erosi dapat menyebabkan lapisan olah tanah menjadi lebih masam.
• Pupuk nitrogen
Nitrogen tanah dapat berasal dari pupuk, bahan organik, sisa hewan, fiksasi N oleh leguminose dapat menyebabkan tanah lebih masam. 
Untuk memperbaiki kemasaman lahan pertanian agar sesuai dengan tanaman yang akan dibudidayakan dipergunakan Dolomite yang mengandung unsur Magnesium (MgO) dengan kehalusan minimal 100 mesh (MESH = TINGKAT KEHALUSAN TEPUNG) agar mudah/ cepat meresap ke dalam tanah.

Fungsi Magnesium (MgO) :
• Mengoreksi keasaman tanah agar sesuai dengan pH yang diperlukan tanaman, kolam dan tambak
• Menetralisir kejenuhan zat - zat yang meracuni tanah, tanaman, kolam dan tambak bilamana zat 
   tersebut berlebihan seperti zat Al (alumunium), Fe (zat besi), Cu (Tembaga)
• Meningkatkan efektifitas dan efisiensi penyerapan zat - zat hara yang sudah ada dalam tanah baik 
   yang berasal dari bahan organik maupun pemberian pupuk lainnya seperti Urea, TSP dan Kcl
• Menjaga tingkat ketersediaan unsur hara mikro sesuai kebutuhan tanaman, dengan Magnesium 
   (MgO) yang cukup unsur mikropun memadai
• Memperbaiki porositas tanah, struktur serta aerasi tanah sekaligus bermanfaat bagi mikrobiologi 
   dan kimiawi tanah sehingga tanah menjadi gembur, sirkulasi udara dalam tanah lancar dan 
   menjadikan akar semai bebas bergerak menghisap unsur hara dari tanah
• Aktifator berbagai jenis enzim tanaman, merangsang pembentukan senyawa lemak dan minyak, 
   serta karbohidrat

Hindari penggunaan pupuk, zat aktif, insektisida, pestisida dan fungisida yang berlebihan.

Pergunakan selalu pupuk dan obat-obatan tanaman yang telah memiliki sertifikasi Standar Nasional Indonesia (SNI)

Semoga bermanfaat bagi petani


PT. PANJIWIRA SURYA MANDIRI
Info dan Pemasaran : 0852 6591 8610

PERLAKUAN PENGOLAHAN TANAH

Tujuan utama pengolahan tanah adalah menyediakan media tumbuh yang baik untuk kelangsungan hidup tanaman. Disamping itu juga pengolahan tanah dapat membantu memperbaiki drainase agar air mudah dialirkan, mengeluarkan racun dalam tanah dengan cara membalik tanah sehingga terjadi penguapan dan membunuh atau memotong siklus hidup gulma. Agar pengolahan tanah dapat memenuhi hal tersebut, perlu diperhatikan beberapa hal sebelum kita mengolah tanah.

1.      Jenis Tanaman
Setiap jenis tanaman mempunyai toleransi yang berbeda terhadap media tanamnya. Tanaman yang dipanen pada bagian akar (seperti umbi-umbian) memerlukan media tanah yang gembur dan dalam agar pertumbuhan umbinya lebih besar. Demikian juga jika tanaman tersebut tidak tahan terhadap genangan air, maka drainase harus lebih baik.
2.      Jenis Tanah
Jenis tanah yang bengandung lempung cenderung lebih sulit dalam pengolahan tanah, karena jika terlalu kering atau terlalu basah akan mengeras. Tanah berlempung diusahakan diolah pada saat air kapasitas lapang (air tidak tergenang dan tidak meresap). Untuk tanah berpasir mengolah pada waktu basah akan lebih mudah.
3.Pengapuran Tanah
Pengukuran pH tanah di perlukan untuk menentukan jumlah pemberian kapur pertanian pada tanah masam
atau pH rendah (Di bawah 6,5). Pengukuran dapat menggunakan dengan kertas Lakmus, pH meter, Atau cairan
pH tester. Dan Pengambilan titik sampel bisa di lakukan secara Zigzag.
4.      Kemiringan lahan
Kemiringan lahan diperhatikan untuk mengatur jalannya air. Prinsipnya adalah pada waktu mengairi, lahan dapat cepat mendapatkan air secara merata (hemat air). Begitu juga jika mengeluarkan air, tidak ada air yang tergenang (adanya kubangan pada lahan). Pada waktu air keluar juga jangan sampai merusak tanaman karena terlalu deras.
Prinsip tersebut dipakai untuk membuat got ataupun bedengan tanaman. Kemiringan got atau bedengan tanaman yang baik adalah 2% sampai 7% tergantung curah hujan, jenis tanah, lebar got/bedengan.
5.     Musim
Musim pada saat mengolah tanah mempengaruhi biaya dan mutu pengolahan tanah. Pada saat lahan terlalu basah atau terlalu kering mutu pengolahan tanah tidak sesuai harapan, bahkan kadang-kadang pengolahan tanah tidak berguna, contohnya pada tanah lempung basah kita lakukan rotary, tanah akan menempel pada rotary dan hasilnya sangat minim.
6.    Vegetasi Lahan
Vegetasi lahan adalah tumbuhan di lahan pada saat pengolahan tanah. Idealnya pengolahan tanah dilakukan pada saat tidak ada tumbuhan diatasnya. Alat pengolahan tanah bisa terhambat jika banyak vegetasi/tumbuhan pada lahan, sehingga hasil tidak maksimal.


7. Jenis Alat
x
Jenis alat seperti bajak singkal, garu, rotary harus disesuaikan dengan jenis tanaman dan jenis tanah. Tanaman yang membutuhkan perakaran dalam membutuhkan bajak. Sedangkan tanaman yang membutuhkan gembur dapat mengunakan rotary.


 Setelah mempertimbangkan faktor-faktor diatas kita dapat menentukan perlakuan pengolahan tanah agar mendapat hasil yang maksimal. Pemilihan perlakuan pengolahan tanah yang tepat akan menghasilkan media tanam yang baik dan biaya yang lebih efisien. Perlakuan pengolahan tanah biasanya dibedakan berdasarkan tujuannya.
8.      Penyiapan dan pembersihan lahan
Penyiapan lahan pada umumnya bertujuan memperbaiki kemiringan lahan. Diusahakan kemiringan dalam sebuah petak/hamparan searah, agar tidak terjadi genangan air. Secara sederhana adalah menimbun lubang dan memangkas gundukan. Pembersihan lahan biasanya diabaikan pada pengolahan tanah, mungkin disebabkan sisa panen atau gulma yang tumbuh sebelumnya dapat menjadi bahan organik akibat tertimbun pengolahan tanah. Tetapi jika banyak sisa tanaman di lahan, alat pengolahan tanah bisa terhambat kerjanya, pada akhirnya mutu tidak maksimal dan kerusakan alat tinggi. Agar vegetasi tidak menganggu pengolahan tanah dilakukan pembabatan dan pembakaran sisa tanaman, tetapi ada pendapat yang menyatakan pembakaran dapat membunuh mikroorganisme tanah. Perendaman agar vegetasi mengalami pelapukan adalah langkah yang terbaik, tetapi membutuhkan waktu yang lama.

9.      Pembalikan Tanah
Tujuan pembalikan tanah adalah memecah kapiler tanah dan memperbaiki aerasi. Pembalikan tanah pertama diusahakan 90 derajat dari kemiringan tanah, supaya lahan jadi lebih rata. Setelah pembalikan tanah dibiarkan beberapa hari agar racun dalam tanah menguap. Lebih sering tanah dibalik lebih bagus. Alat yang dipakai biasanya bajak singkal atau bajak piring (disc plow). Semakin dalam pembalikan tanah akan semakin bagus.

10.    Penggemburan Tanah
Penggemburan bertujuan meremahkan tanah supaya akar berkembang maksimal, semakin gembur tanah akan mendukung pertumbuhan awal tanaman (perkecambahan ataupun pertumbuhan tanaman muda). Alat yang digunakan biasanya garu atau rotary. Selain gembur biasanya tanah akan semakin rata. Penggunaan rotary tidak efektif pada lahan yang sangat basah. Gulma yang berkembang biak lewat akar jika dirotary semakin terpotong banyak dan semakin merata di lahan. Pemakaian herbisida pra tumbuh akan membantu menekan gulma pada lahan yang dirotary.

11.  Pembuatan Alur Tanam (Bedengan)
Pembuatan bedengan bertujuan sebagai tempat tumbuh tanaman dan mengatur jalannya air. Dengan bedengan jumlah tanaman bisa dikontrol dan pemeliharaan lebih mudah. Kemiringan lahan perlu dijadikan acuan dalam menentukan arah bedengan, hal ini bertujuan agar drainase bisa lancar. Alat untuk membuat bedengan berupa kair atau pada umumnya dilakukan secara manual (mengunakan cangkul, lempak dll).
Setelah memperhatikan faktor-faktor sebelum pengolahan tanah dan menentukan perlakuan apa yang cocok untuk lahan dan tanaman, ada satu hal yang sangat penting dipertimbangkan, yaitu biaya. Biaya pengolahan tanah bisa mencapai 20 % sampai 50 % dari biaya pemeliharaan. Pengolahan tanah yang sempurna tentu lebih menguntungkan bagi pertumbuhan tanaman. Tetapi jangan sampai penambahan perlakuan pengolahan tanah menjadikan biaya produksi melambung. Pengamatan kondisi lahan, sifat tumbuh tanaman dan ketersediaan alat pengolahan tanah dapat menjadikan pertimbangan dalam menentukan kombinasi perlakuan tanah.

PT. PANJIWIRA SURYA MANDIRI
Info dan Pemasaran : 085165918610